Budaya Masyarakat

Budaya merupakan salah satu aspek kehidupan yang tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Pemenuhan data primer maupun sekunder pendukung dalam penulisan orientasi aspek budaya masyarakat ini kami dapatkan melalui pengamatan langsung ke masyarakat, wawancara, berpartisipasi langsung ke dalam kegiatan masyarakat, dan juga mengakses data ke kantor desa. Dari hasil pengamatan tersebut dapat kami uraikan aspek budaya masyarakat Desa Bagjasari yang masih memiliki budaya pedesaan yang kental. Desa Bagjasari masih sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Mengenal satu sama lain, membantu satu sama lain, dan menjaga silaturahmi yang baik antar warga. Desa Bagjasari masih kental akan kekeluargaan dan kebersamaan , satu sama lain saling mengenal dekat dan tidak ada jenjang antara generasi muda dan generasi tua dalam berkekeluargaan sesama warga desa.

Gotong Royong Warga Memperbaiki Jalan

Hampir sebagian besar penduduk Desa Bagjasari berasal dari suku Sunda. Hal ini menjadikan bahasa dan budaya Sunda sangat lekat dalam keseharian masyarakat. Budaya desa-desa pada umumnya juga masih dipertahankan di desa ini seperti kegiatan siskamling/ ronda malam. Kegiatan ini rutin dilakukan dan memiliki jadwal piket yang tersusun. Hal ini dapat dilihat dari adanya kegiatan kerja bakti yang rutin dilakukan setiap hari Jum'at mulai pukul 8.00-11.00. Gotong royong di Desa Bagjasari sangat terlihat di setiap aspek kehidupan bermasyarakat. Contohnya seperti membangun mesjid, pembangunan desa, membersihkan kuburan warga, atau mengadakan kegiatan bersih-bersih desa  yang kini masih dikerjakan bersama-sama tanpa menyewa tenaga ahli, sedangkan masalah konsumsinya berasal dari swadaya masyarakat.

Acara Dangdutan Warga Khitanan

Siskamling didesa ini pun masih berjalan dengan baik meskipun desa ini tergolong daerah yang sangat  aman, bagi mereka kegiatan siskamling merupakan salah satu kegiatan bersosialisasi antar warga khususnya bapak-bapak dan pemuda. Keadaan desa yang aman tidak terlepas dari gaya masyarakatnya itu sendiri. Gaya hidup yang sederhana dapat meminimalisir tindak kejahatan di desa ini.Warga Desa Bagjasari memiliki beberapa kebiasaan yang cukup unik, yaitu ketika ada warga yang mengadakan hajatan maka grup dangdut dan grup rebana dari desa ini tidak luput dari acara. Mereka akan selalu ditampilkan untuk menghibur masyarakat desa. Dangdut dan rebana memang menjadi salah satu hiburan yang diandalkan di desa ini. Penampilan sang biduan dan penampilan ibu-ibu yang memainkan rebana adalah hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Desa Bagjasari.

Petani di Lahan Ubi Kayu

Masyarakat Desa Bagjasari mayoritas berprofesi sebagai petani. Namun dalam proses penanaman dan panen, mereka tidak menggunakan ritual-ritual khusus. Pelaksanaan penanaman dan panen pun tidak dilakukan secara bersamaan antara petani yang satu dengan yang lain. Jadi, tidak ada musim tertentu untuk penanaman atau panen padi.

Latihan Bersama Grup Qasidah dan Marawis

Desa Bagjasari merupakan salah satu desa di Kecamatan Cikijing yang 100% warganya memeluk agama islam. Pengajian rutin selalu diadakan 4 kali dalam setiap minggunya, khususnya bagi anak-anak yang selalu melakukan kegiatan mengaji setiap lepas dzuhur di mesjid setempat. Kegiatan-kegiatan keagamaan lain pun sering dilakukan seperti merayakan maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan sangat meriah. Apabila kita berbicara mengenai budaya pasti tidak terlepas dari aspek kesenian. Desa Bagjasari memiliki beberapa budaya seni, seperti musik qosidah, grup rebana, orkes dangdut, seni kaligrafi, dan kerajinan talenan dari kayu. Dari informasi yang telah diperoleh, rebana merupakan salah satu kesenian musik yang paling digemari di Desa Bagjasari.

Budaya merupakan salah satu aspek kehidupan yang tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Pemenuhan data primer maupun sekunder pendukung dalam penulisan orientasi aspek budaya masyarakat ini kami dapatkan melalui pengamatan langsung ke masyarakat, wawancara, berpartisipasi langsung ke dalam kegiatan masyarakat, dan juga mengakses data ke kantor desa. Dari hasil pengamatan tersebut dapat kami uraikan aspek budaya masyarakat Desa Bagjasari yang masih memiliki budaya pedesaan yang kental. Desa Bagjasari masih sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Mengenal satu sama lain, membantu satu sama lain, dan menjaga silaturahmi yang baik antar warga. Desa Bagjasari masih kental akan kekeluargaan dan kebersamaan , satu sama lain saling mengenal dekat dan tidak ada jenjang antara generasi muda dan generasi tua dalam berkekeluargaan sesama warga desa.

Hampir sebagian besar penduduk Desa Bagjasari berasal dari suku Sunda. Hal ini menjadikan bahasa dan budaya Sunda sangat lekat dalam keseharian masyarakat. Budaya desa-desa pada umumnya juga masih dipertahankan di desa ini seperti kegiatan siskamling/ ronda malam. Kegiatan ini rutin dilakukan dan memiliki jadwal piket yang tersusun. Hal ini dapat dilihat dari adanya kegiatan kerja bakti yang rutin dilakukan setiap hari Jum'at mulai pukul 8.00-11.00. Gotong royong di Desa Bagjasari sangat terlihat di setiap aspek kehidupan bermasyarakat. Contohnya seperti membangun mesjid, pembangunan desa, membersihkan kuburan warga, atau mengadakan kegiatan bersih-bersih desa  yang kini masih dikerjakan bersama-sama tanpa menyewa tenaga ahli, sedangkan masalah konsumsinya berasal dari swadaya masyarakat.

Siskamling didesa ini pun masih berjalan dengan baik meskipun desa ini tergolong daerah yang sangat  aman, bagi mereka kegiatan siskamling merupakan salah satu kegiatan bersosialisasi antar warga khususnya bapak-bapak dan pemuda. Keadaan desa yang aman tidak terlepas dari gaya masyarakatnya itu sendiri. Gaya hidup yang sederhana dapat meminimalisir tindak kejahatan di desa ini.Warga Desa Bagjasari memiliki beberapa kebiasaan yang cukup unik, yaitu ketika ada warga yang mengadakan hajatan maka grup dangdut dan grup rebana dari desa ini tidak luput dari acara. Mereka akan selalu ditampilkan untuk menghibur masyarakat desa. Dangdut dan rebana memang menjadi salah satu hiburan yang diandalkan di desa ini. Penampilan sang biduan dan penampilan ibu-ibu yang memainkan rebana adalah hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Desa Bagjasari.

Masyarakat Desa Bagjasari mayoritas berprofesi sebagai petani. Namun dalam proses penanaman dan panen, mereka tidak menggunakan ritual-ritual khusus. Pelaksanaan penanaman dan panen pun tidak dilakukan secara bersamaan antara petani yang satu dengan yang lain. Jadi, tidak ada musim tertentu untuk penanaman atau panen padi.

Desa Bagjasari merupakan salah satu desa di Kecamatan Cikijing yang 100% warganya memeluk agama islam. Pengajian rutin selalu diadakan 4 kali dalam setiap minggunya, khususnya bagi anak-anak yang selalu melakukan kegiatan mengaji setiap lepas dzuhur di mesjid setempat. Kegiatan-kegiatan keagamaan lain pun sering dilakukan seperti merayakan maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan sangat meriah. Apabila kita berbicara mengenai budaya pasti tidak terlepas dari aspek kesenian. Desa Bagjasari memiliki beberapa budaya seni, seperti musik qosidah, grup rebana, orkes dangdut, seni kaligrafi, dan kerajinan talenan dari kayu. Dari informasi yang telah diperoleh, rebana merupakan salah satu kesenian musik yang paling digemari di Desa Bagjasari.

Budaya merupakan salah satu aspek kehidupan yang tidak dapat dilepaskan dari masyarakat. Pemenuhan data primer maupun sekunder pendukung dalam penulisan orientasi aspek budaya masyarakat ini kami dapatkan melalui pengamatan langsung ke masyarakat, wawancara, berpartisipasi langsung ke dalam kegiatan masyarakat, dan juga mengakses data ke kantor desa. Dari hasil pengamatan tersebut dapat kami uraikan aspek budaya masyarakat Desa Bagjasari yang masih memiliki budaya pedesaan yang kental. Desa Bagjasari masih sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Mengenal satu sama lain, membantu satu sama lain, dan menjaga silaturahmi yang baik antar warga. Desa Bagjasari masih kental akan kekeluargaan dan kebersamaan , satu sama lain saling mengenal dekat dan tidak ada jenjang antara generasi muda dan generasi tua dalam berkekeluargaan sesama warga desa.

Hampir sebagian besar penduduk Desa Bagjasari berasal dari suku Sunda. Hal ini menjadikan bahasa dan budaya Sunda sangat lekat dalam keseharian masyarakat. Budaya desa-desa pada umumnya juga masih dipertahankan di desa ini seperti kegiatan siskamling/ ronda malam. Kegiatan ini rutin dilakukan dan memiliki jadwal piket yang tersusun. Hal ini dapat dilihat dari adanya kegiatan kerja bakti yang rutin dilakukan setiap hari Jum'at mulai pukul 8.00-11.00. Gotong royong di Desa Bagjasari sangat terlihat di setiap aspek kehidupan bermasyarakat. Contohnya seperti membangun mesjid, pembangunan desa, membersihkan kuburan warga, atau mengadakan kegiatan bersih-bersih desa  yang kini masih dikerjakan bersama-sama tanpa menyewa tenaga ahli, sedangkan masalah konsumsinya berasal dari swadaya masyarakat.

Siskamling didesa ini pun masih berjalan dengan baik meskipun desa ini tergolong daerah yang sangat  aman, bagi mereka kegiatan siskamling merupakan salah satu kegiatan bersosialisasi antar warga khususnya bapak-bapak dan pemuda. Keadaan desa yang aman tidak terlepas dari gaya masyarakatnya itu sendiri. Gaya hidup yang sederhana dapat meminimalisir tindak kejahatan di desa ini.Warga Desa Bagjasari memiliki beberapa kebiasaan yang cukup unik, yaitu ketika ada warga yang mengadakan hajatan maka grup dangdut dan grup rebana dari desa ini tidak luput dari acara. Mereka akan selalu ditampilkan untuk menghibur masyarakat desa. Dangdut dan rebana memang menjadi salah satu hiburan yang diandalkan di desa ini. Penampilan sang biduan dan penampilan ibu-ibu yang memainkan rebana adalah hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Desa Bagjasari.

Masyarakat Desa Bagjasari mayoritas berprofesi sebagai petani. Namun dalam proses penanaman dan panen, mereka tidak menggunakan ritual-ritual khusus. Pelaksanaan penanaman dan panen pun tidak dilakukan secara bersamaan antara petani yang satu dengan yang lain. Jadi, tidak ada musim tertentu untuk penanaman atau panen padi.

Desa Bagjasari merupakan salah satu desa di Kecamatan Cikijing yang 100% warganya memeluk agama islam. Pengajian rutin selalu diadakan 4 kali dalam setiap minggunya, khususnya bagi anak-anak yang selalu melakukan kegiatan mengaji setiap lepas dzuhur di mesjid setempat. Kegiatan-kegiatan keagamaan lain pun sering dilakukan seperti merayakan maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan sangat meriah. Apabila kita berbicara mengenai budaya pasti tidak terlepas dari aspek kesenian. Desa Bagjasari memiliki beberapa budaya seni, seperti musik qosidah, grup rebana, orkes dangdut, seni kaligrafi, dan kerajinan talenan dari kayu. Dari informasi yang telah diperoleh, rebana merupakan salah satu kesenian musik yang paling digemari di Desa Bagjasari.