Hasil Orientasi Aspek Sosial Budaya Desa Cibadak

Desa Cibadak yang memiliki luas lahan 304,48 Ha merupakan salah satu desa di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Secara administrasi wilayah Desa Cibadak terbagi menjadi tiga dusun, yaitu Dusun Wanayasa, Dusun Mekarsari, dan Dusun Cibeureum yang terdiri dari delapan rukun warga, dan tiga puluh delapan rukun tetangga.

Kondisi sosial masyarakat Cibadak stabil dan keadaan lingkungan aman, hal ini dapat terwujud salah satunya dengan adanya kebiasaan kegiatan gotong royong, program jumat bersih, kegiatan pengajian rutin dan kegiatan pos ronda setiap malam nya. Budaya gotong royong yang dikenal oleh masyarakat dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Budaya gotong royong tolong menolong terjadi pada aktivitas pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, kegiatan perayaan, dan pada peristiwa bencana atau kematian. Sedangkan budaya gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, entah yang terjadi atas inisiatif warga atau gotong royong yang dipaksakan.

Namun pada beberapa dusun yang terdapat di Desa Cibadak, kebiasaan gotong royong mulai luntur dan ditinggalkan oleh masyarakat. Masyarakat menjadi cenderung individualis, konsumtif, dan kapitalis sehingga rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan senasib sepenanggungan atarsesama manusia mulai hilang seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi yang mulai masuk ke pedesaan. Di salah satu dusun, yaitu Dusun Mekarsari terdapat kondisi sosial yang sudah termoderenisasi, yaitu masyarakat individualis, sehingga mulai berkurangnya rasa kekeluargaan dan jiwa gotong royong antarmasyarakat.

Masyarakat individualis terjadi karena kesenjangan sosial yang semakin berdampak buruk bagi kegiatan sosial di masyarakat, maka dari itu setiap individu dalam masyarakat berusaha dengan susah payah untuk mempertahankan kehidupan masing-masing, dengan lebih sibuk mengurus urusan masing-masing dan mempertahankan hidup masing-masing. Hal itu juga mendukung masyarakat bisa disebut termodernisasi, karena masyarakat yang termodernisasi mempunyai pola pikir dan bertindak sesuai suasana dan kondisi yang sedang dialami saat itu juga.

Moderenisasi sebagai sebuah perkembangan manusia dan masyarakat secara sosiologis dapat dianggap sebagai sebuah proses perubahan sosial. Soerjono Soekanto (2007) menyatakan bahwa perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok masyarakat. Perubahan yang terjadi bukan hanya pada fisik masyarakat tapi juga terhadap pola pikir yang berimplikasi pada berubahnya cara pandang masyarakat.

Desa Cibadak sendiri tidak bisa dikatakan sebagai sebuah desa yang benar-benar sudah modern karena masih ada beberapa sifat ketradisionalan yang melekat di tiap diri masyarakat, terutama penduduk pribumi. Jadi dapat dikatakan bahwa Cibadak merupakan kawasan suburban. Suburban merupakan sebuah kawasan yang masyarakatnya telah terperangkap dalam suatu transformasi meninggalkan pertanian, tetapi masih belum sepenuhnya didominasi oleh kegiatan-kegiatan industrial, maka dari itu banyak masyarakat di desa suburban yang mencari nafkah pada sektor informal yang tidak teratur.

Keadaan ini dapat dibuktikan dengan adanya perbedaan keadaan di tiap dusunnya. Di Desa Cibadak, khususnya di Dusun Cibeureum merupakan dusun yang termasuk masih sangat tradisional karena kondisi wilayahnya yang lebih didominasi oleh persawahan, kondisi sosial yang masih tradisional, karena antar masyarakat sekitar masih erat kekerabatannya dan didukung oleh dominasi masyarakat pribumi dari Cibeureum dan hanya sebagian kecil masyarakat pendatang. Masyarakat dikatakan tradisional karena masih menjunjung tinggi adat istiadat dan tatakrama yang tentunya menjadi ciri khas bagi masyarakat desa, serta didukung dengan adanya sikap selektif yang diberlakukan masyarakat terhadap budaya baru yang masuk dan dianggap dapat mengganggu bahkan merusak kebudayaan yang telah ada.

Sementara dusun lainnya yaitu Mekarsari merupakan dusun yang tergolong maju dan masyarakatnya lebih individualis. Hal ini didukung dengan kondisi wilayah Mekarsari yang berada di pinggiran jalan sehingga interaksi antara masyarakatnya relatif lebih sedikit dan tidak sebanyak dusun lainnya. Dusun ketiga, yaitu Dusun Wanayasa merupakan dusun yang paling banyak terjadi akulturasi budaya selain karena banyaknya pendatang ke dusun ini yang berniat baik itu untuk menetap maupun mencari pekerjaan sebagai pengrajin kerajinan tangan dan homeindustry makanan ringan.

Salah satu yang menjadi keunikan kehidupan sosial di desa Cibadak adalah di dusun Wanayasa terdapat dua karakter masyarakat yang berbeda, yakni Sunda dan Jawa. Meskipun berbeda mereka mampu hidup berdampingan, bahkan dengan kondisi tersebut menambah keterampilan berbahasa mereka yang mampu menguasi kedua bahasa (Sunda dan Jawa). Faktor yang membuat mereka mampu hidup berdampingan adalah sistem religi yang sama yakni sama-sama menganut Agama Islam yang di integrasikan dengan norma dan peraturan hukum yang berlaku di sana. Selanjutnya bermata pencaharian yang sama, rata-rata masyarakat dusun Wanayasa memiliki usaha kerajinan Lidi, terakhir pola interaksi sosial mereka, walapun arus globalisasi dan modernisasi masuk, masyarakat dusun Wanayasa tetap mempertahankan hubungan kekerabatan dan kekeluaragaan dengan media pengajian yang selalu diadakan di Masjid, selain untuk beribadah kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk menjalin interaksi dan memperkokoh rasa kekeluargaan.

Secara keseluruhan, karakteristik sosial masyarakat desa cibadak, bisa dibilang cukup baik, interaksi sosial antar masyarakat selalu terjalin baik, sehingga “sekat” yang dibatasi oleh tembok antar rumah tidak menjadi hambatan untuk saling bertegur sapa, saling mengunjungi, hingga saling memberi, dan tentunya saling menolong. Hubungan mereka nampaknya leih dari sekedar “tetangga biasa”, tetapi sudah terjalin hubungan “kekerabatan” atau mungkin sudah dianggap sebagai “keluarga”. Kondisi sosial masyarakat desa cibadak cenderung stabil, keadaan lingkunannya aman, terdapat kebiasaan kegiatan gotong royong, program jum’at bersih, dan kegiatan pengajian rutin.

Meskipun begitu, arus globalisasi dan modernisasi nampaknya telah sedikit mengikis kondisi sosial masyarkat desa Cibadak, terutama di kalangan anak remaja dan pemuda yang lebih senang berinteraksi dengan ‘gadget’nya dibandingkan bermain secara motorik/fisik dan berinteraksi langsung bersama teman-temannya. Berbeda dengan kalangan orang tua, meraka masih mempertahankan kehidupan tradisionalnya dengan menjungjung tinggi rasa kekeluargaan.

Kesimpulannya, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Cibadak masih mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya diberbagai bidang kehidupan, terutama ekonomi dan sosial-budaya nya, meskipun arus globalisasi dan modernisasi telah masuk, namun hal itu tidak meruntuhkan norma-norma kehidupan masyarakat desa Cibadak yang sangat religius.