Jika Aku Menjadi – Apoteker (Siri Sofiatul Jannah, Farmasi)

“Jika Aku Menjadi Seorang Apoteker di Desa Cibadak : Swamedikasi untuk Edukasi Masyarakat tentang Penggunaan Obat yang Tepat”

Oleh :

Siti Sofiatul Jannah (260110140116)

Fakultas dan Prodi Farmasi

Desa Cibadak merupakan salah satu desa tertua yang berada di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Desa ini berbatasan langsung dengan desa-desa lain yang ada di Kecamatan Banjarsar, seperti Desa Banjarsari, Kawasen, Ciherang, dan Sukasari. Memiliki lahan seluas 360,48 Hektar, Desa Cibadak menjadi desa yang memiliki luas lahan yang paling sempit dengan desa-desa lainnya yang menjadikannya sebagai desa paling padat penduduk. Meskipun demikian, penggunaan lahan yang ada di desa Cibadak dapat dikatakan lengkap dan baik untuk mendukung kegiatan masyarakat di desa Cibadak sendiri. Penggunaan lahan di desa ini meliputi pemanfaatan lahan terbuka dan pembangunan fasilitas sarana seperti penggunaan lahan pertanian yang berpusat di dusun Cibeureum, lahan perkebunan, pasar kecamatan, pusat kerajinan tangan piring lidi dan makanan ringan, serta adanya fasilitas-fasilitas kesehatan yang mendukung seperti Poskesdes dan Polindes.

Desa Cibadak meliputi tiga dusun, yaitu dusun Wanayasa, Mekarsari, dan Cibeureum, dimana di setiap dusun memliki dua buah posyandu yang memanfaatkan salah satu rumah warga sebagai posyandu karena tidak ada bangunan khusus. Selain itu, terdapat juga sebuah poskesdes yang bertempat di kantor desa Cibadak. Selain fasilitas kesehatan yang dimiliki desa, terdapat juga dua apotek milik warga dan praktek bidan yang tidak jauh dari kantor desa. Karena belum adanya praktek layanan dokter umum di desa ini, layanan baru bisa dilakukan di puskesmas yang terletak di Desa Ciherang dengan aksesibilitas yang cukup mudah dengan jarak sekitar 500 meter dan dapat ditempuh menggunakan angkutan umum, becak, atau kendaraan pribadi, atau dengan mendatangi “mantri” yang tinggal di desa Cibadak.

Adanya dua buah apotek di desa ini menjadikan masyarakat desa cibadak lebih mudah dalam membeli obat untuk menyembuhkan keluhan – keluhan sakit atau gejala penyakit yang mereka rasakan secara bebas tanpa harus ke dokter atau puskesmas. Namun sayangnya, kedua apotek ini belum mempunyai apoteker penanggung jawab apotek yang tetap sehingga kegiatan  pembelian dan penyerahan obat, juga pelayanan informasi obat dari petugas apotek kepada pasien tidak dapat diawasi dengan baik. Seringkali pasien meminta obat golongan keras yang harus diberikan dengan  resep dokter namun didapat dengan mudah di apotek karena sering membelinya dan salah dianggap sebagai obat yang umum dibeli untuk mengobati gejala-gejala ringan. Misalnya pada masyarakat yang memiliki keluhan gatal karena alergi dan membeli obat metil prednisolone yang merupakan obat jenis glukokortikoid dan termasuk golongan obat keras yang harus didapat dengan resep dokter. Selain itu, beberapa kesalahan dalam penggunaan obat juga sering terjadi karena ketidaktahuan masyarakat akan informasi obat yang ada, seperti tidak tepat indikasi, tidak tepat cara pemakaian, dan tidak tepat dosis. Kejadian – kejadian seperti ini dapat menyebabkan obat tidak memberikan efek terhadap gejala yang diderita, memperbesar resiko efek samping obat, dan kesalahan dalam pengobatan lainnya.

Sebagai seorang calon farmasis, jika aku menjadi apoteker di desa Cibadak ini, maka sudah seharusnya seorang apoteker memeliki peran dalam mengedukasi masyarakat untuk membeli dan menggunakan obat dengan benar dan tepat. Untuk itu, aku akan menyediakan layanan konseling swamedikasi masyarakat di apotek tempatku bekerja. Swamedikasi adalah upaya yang dilakukan oleh individu yang bertujuan untuk mengobati segala keluhan pada diri sendiri dengan obat-obatan yang dapat dibeli bebas di apotek atas inisiatif sendiri tanpa nasehat dokter. Swamedikasi (self medication) bagi sebagian masyarakat adalah upaya melakukan pengobatan diri sendiri tanpa konsultasi ke dokter ketika sedang sakit, biasanya dilakukan untuk mengobati gangguan kesehatan yang ringan, seperti gatal-gatal, batuk pilek, demam, sakit kepala, maag, hingga iritasi ringan pada mata. Layanan swamedikasi ini dapat dilakukan oleh seorang apoteker sehingga tidak hanya dapat meningkatkan wawasan masyarakat dalam memilih obat, tetapi juga dapat meningkatkan peran profesi seorang apoteker seperti saya dalam lingkungan masyarakat yang selama ini tidak cukup dikenal.

Berbagai langkah yang dapat saya lakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang swamedikasi, di antaranya dengan konseling layanan swamedikasi gratis yang bisa dilakukan di apotek tempat saya bekerja secara rutin kepada pasien dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk pertimbangan ketepatan pemilihan obat. Selain itu juga dapat disampaikan melalui penyuluhan kepada masyarakat desa secara umum mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan swamedikasi, seperti apa saja obat yang boleh dibeli di apotek, memilih obat dengan jenis kandungan zat aktif yang sesuai dengan gejala penyakitnya, mengedukasi masyarakat untuk membaca informasi obat pada brosur dan kemasan dengan seksama, mengikuti cara pemakaian dan aturan pakai obat dengan benar, dan mengingatkan pasien bahwa obat swamedikasi hanya dapat digunakan dalam jangka waktu pendek atau tidak lebih dari seminggu. Dengan demikian, jika aku menjadi seorang apoteker di desa Cibadak, aku akan aktif dalam memberikan layanan swamedikasi kepada masyarakat agar menjadi lebih tepat dalam membeli dan menggunakan obat dan dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Desa Cibadak.