Jika Aku Menjadi – Konselor (Diah Rodiyah Juhara, Psikologi)

JIKA AKU MENJADI KONSELOR DI SMA/SMK/MA/Sederajat Desa Cibadak

Oleh :

Diah Rodiyah Juhara (190110140029)

Fakultas dan Prodi Psikologi

Desa Cibadak memiliki lima SMA/SMK/MA/Sederajat. Yaitu, SMK Siliwangi, SMK 1 Muhamadiyah, SMK 2 Muhamadiyah, SMK 3 Muhamadiyah, dan MA PUI Banjarsari. Akan tetapi, di setiap sekolah tingkat menengah ini belum ada konselor untuk menangani permasalahan-permasalahan siswa.

Permasalahan siswa yang terjadi di SMA Cibadak sangatalah beragam. Interview yang sudah saya lakukan kepada 5 orang siswa mendapatkan data permasalahan yang dialami berupa masalah keluarga, ekonomi, pertemanan, rencana masa depan, dan percintaan. Permasalahan yang dialami ini berdampak pada tingkah laku siswa di sekolah yang cenderung mengekrpresikan lukanya melalui tindak berontak juga minat belajar yang kurang.

Salah satu contoh kasus yaitu permasalahan yang dialami Adi (nama samaran). Dia memiliki hubungan kurang baik dengan kedua orang tuanya. Ke dua orang tua Adi bekerja sebagai wirausaha di Desa Cibadak, Oleh karenanya, waktu yang diluangkan orang tua Adi bersama Adi semenjak kecil sangatlah sedikit. Dan ketika mereka berkumpul di rumah pada senja hari, orang tua Adi sudah merasa kelelahan untuk sekedar menanyakan kabar atau bersendau gurau.

Keadaan yang dialami Adi membuatnya merasa tidak memiliki rumah. Ia merasa tidak memiliki wadah untuk leluasa bercerita dan berbagi rasa. Ia pun berpikir jika ia tidak mendapatkan dukungan sosial dari orang taunya. Oleh karena itu, ia mengungkapkan rasa sakitnya dengan berontak di sekolah.

Adi pun menyadari bahwa ia melanggar beberapa aturan sekolah. Seperti mengeluarkan baju, memakai sepatu biru, membawa handphone, mengatakan kata kasar, dan mewarnai rambut hitamnya. Ia juga tidak berminat untuk belajar, karena merasa tidak ada orang yang peduli pada dirinya. Sehingga ia kerap kali dikatakan bodoh oleh rekan-rekannya.

Padahal, Adi ini memiliki potensi lebih pada bidang sepak bola. Kelebihan Adi sebenarnya mampu didukung dan diasah jika orang-orang di sekelilingnya lebih fokus pada kemampuannya itu. Akan tetapi, perilakunya yang cenderung berontak menutupi kelebihannya.

Adi yang di rumah sudah merasa tidak betah, kemudian di sekolah merasa tidak menerima dukungan, mengakibatkan ia suka bolos masuk kelas. Ia lebih senang menghabiskan waktu di luar sekolah untuk bersenang-senang bersama rekan-rekan yang ia rasa senasib sepenanggungan dan mengerti apa yang ia rasakan.

Permasalahan Adi yang terjadi di sekolah sebenarnya mampu di atasi oleh seorang konselor dalam layanan bimbingan dan konseling yang disediakan oleh sekolah. Konselor mampu berhubungan dengan individu yang beragam secara pribadi, sosial, dan latar belakang. Akan tetapi, SMA/SMK/MA/Sederajat di Desa Cibadak ini belum memiliki sosok konselor yang mampu menerima segala keluh kesah siswa dan mengatasinya dengan bijaksana.

Oleh karena itu, jika saya menjadi seorang konselor SMA/SMK/MA/Sederajat Cibadak, saya akan berusaha untuk mengatasi permasalahan yang dialami Adi. Merangkulnya agar ia lebih berminat sekolah dan belajar juga menyadarkannya untuk berperilaku sesuai norma dan aturan supaya diterima di lingkungan.

Saya akan menjadi wadah bagi Adi dan siswa lainnya untuk membuka diri mereka. Menerima mereka dengan berbagai pengalaman, pendapat, dan latar belakang. Sehingga mereka mampu beraktivitas optimal dalam kegiatan belajar mengajar juga bermasyarakat.

Saya pun akan memberikan solusi dan informasi mengenai kebingungan mereka akan dunia perkuliahan. Hal ini dikarenakan di desa Cibadak minat kuliah mereka ada, tapi mereka kurang informasi mengenai proses masuk kuliah dan ketakutan akan bayaran tinggi. Mereka kurang tersosialisasikan mengenai beasiswa-beasiswa yang ada di perkuliahan.

Saya pun ingin membuat penyuluhan bagi rekan-rekan guru lainnya untuk mementingkan dukungan sosial bagi siswa. Bagaimana pun juga seorang siswa pasti memiliki potensi untuk lebih dari orang lain. Saya ingin mereka fokus pada kelebihannya bukan pada apa kekurangannya. Saya ingin menciptakan siswa yang well-being di sekolah agar mereka berbahagia dan merasa sekolah sebagai rumah ke-dua.

Saya ingin membuat program ‘Siswa Bahagia’ dengan menghilangkan stereotip negatif  terhadap layanan bimbingan dan konseling di sekolah yang hanya menerima orang-orang ‘nakal’ saja. Saya ingin membuka ruang BK bagi siapa saja yang ingin berbagi cerita agan mereka merasa dihargai dan berharga.