Jika Aku Menjadi – Pendidik (Azkia K. N, Sastra Prancis)

JIKA AKU MENJADI PENDIDIK DI DESA CIBADAK, CIAMIS

Oleh :

Azkia Khaerun Nida (180510140024)

Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Prancis

Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU no. 5 tahun 1979) 

Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan Nasional dan berada di daerah Kabupaten (UU no. 22 tahun 1999)

Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (UU no. 6 tahun 2014)

Menurut definisi mengenai desa dalam undang-undang, desa memiliki hak untuk mengatur dirinya sendiri. Berkembang mandiri berdasar hak asal usul, adat istiadat setempat dan atau hak tradisionalnya. Sifat mempertahankan nilai dan norma yang telah berlaku dari zaman dahulu membuat desa terkesan tidak maju ketimbang kota. Realita ketertinggalan perkembangan di desa sebetulnya ‘by design’ untuk mensejahterakan diri dengan tetap menjaga dan melestarikan warisan leluhur; namun pada realitanya pula, desain pembangunan dan pengembagan desa tidak ada yang mampu membuat desa sejahtera secara mandiri kecuali sebagai penyokong kehidupan kota.

Salah satu lokasi kegiatan Kuliah Kerja Nyata Masyarakat (KKNM) yang diadakan Universitas Padjadjaran tahun ini adalah Desa Cibadak yang terletak di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Desa ini termasuk desa swakarya yang aktivitasnya condong ke sektor industri dan perdagangan dengan rincian sumber daya bidang Industri Pengolahan (Pabrik, Kerajinan dll.) sebanyak 47 orang dan 455 orang yang beraktivitas di bidang Perdagangan Sedang/Eceran dan Rumah Makan berdasar data tahun 2016. Dengan kategori desa peralihan atau transisi dari desa swadaya menuju desa swasembada, praktik mengenai penjagaan nilai dan budaya tradisional di Desa Cibadak tidak terlalu tercermin, namun nilai dan norma agama Islam cukup dipegang erat oleh masyarakatnya.

Terlepas dari kategori perkembangan desa dan praktik keadatan yang tidak terlalu ditegakkan seperti desa pada umumnya, sumber daya manusia Desa Cibadak masih perlu dikembangkan kualitasnya demi pencapaian kemandirian untuk kemaslahatan masyarakatnya sendiri. Dari data 2016, ada  401 orang yang tidak bekerja/penganggur dan 488 orang penduduk miskin (menurut standar BPS) yang jumlah keduanya meningkat sedikit dari dua tahun sebelumnya.

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah kualitas sumber daya manusia tersebut. Di Desa Cibadak sendiri terdapat semua jenjang pendidikan formal dari mulai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD) sederajat, Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. Desa ini memungkinkan untuk menyukseskan program pendidikan 12 tahun walaupun dengan sarana dan pra sarana sekolah yang belum lengkap dan kualifikasi guru yang kurang di beberapa sekolah.

Aku tertarik menjadi seorang pendidik, walau bukan berlatarbelakang pendidikan keguruan. Namun Aku merasa bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor pentig dan strategis untuk mencapai kemaslahatan baik untuk diri sendiri dan lingkungan. Lebih fokusnya, barangkali ke pendidikan mengenai geografi, sosial, budaya dan bahasa yang sedikit banyaknya Aku kaji di Universitas tempatku belajar.

Pengetahuan geografi, sosial, budaya dan bahasa dapat menyelesaikan permasalahan seputar kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai dunia luar, urgensi wawasan dunia untuk menghadapi masa depan agar menghilangkan pola pikir sempit dan tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Globalisasi. Setelah aku melaksanakan program mengisi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bersama kawan-kawan peserta KKNM Desa Cibadak, dapat disimpulkan bahwa pelajar desa ini memiliki potensi berupa rasa keingintahuan yang tinggi, kemauan belajar, kebutuhan meningkatkan potensi diri untuk bersaing, dan bahwasannya banyak peluang untuk dirinya berkiprah dan berkembang baik di desanya maupun untuk kota.

Spesifiknya, jika Aku menjadi pendidik di Desa Cibadak secara formal maupun non formal, Aku ingin mengadakan pendidikan vokasi di kalangan pelajar di bidang budaya dan bahasa asing khususnya Inggris dan Prancis, yang Aku pelajari di Universitas. Mengapa memilih Inggris dan Prancis? Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional utama dan Prancis berada di posisi ketiga. Ketika mampu berbahasa Inggris, berarti individu tersebut berpotensi untuk ‘menguasai dunia’ dan Prancis sebagai tambahan khazanahnya. Bisa dibayangkan ketika pelajar desa mampu berbahasa selain bahasa Indonesia dan bahasa daerah, kualitas dirinya menjadi tinggi dan lebih banyak peluang di masa depan yang bisa ia ambil.

Jika Aku Menjadi – Konselor (Diah Rodiyah Juhara, Psikologi)

JIKA AKU MENJADI KONSELOR DI SMA/SMK/MA/Sederajat Desa Cibadak

Oleh :

Diah Rodiyah Juhara (190110140029)

Fakultas dan Prodi Psikologi

Desa Cibadak memiliki lima SMA/SMK/MA/Sederajat. Yaitu, SMK Siliwangi, SMK 1 Muhamadiyah, SMK 2 Muhamadiyah, SMK 3 Muhamadiyah, dan MA PUI Banjarsari. Akan tetapi, di setiap sekolah tingkat menengah ini belum ada konselor untuk menangani permasalahan-permasalahan siswa.

Permasalahan siswa yang terjadi di SMA Cibadak sangatalah beragam. Interview yang sudah saya lakukan kepada 5 orang siswa mendapatkan data permasalahan yang dialami berupa masalah keluarga, ekonomi, pertemanan, rencana masa depan, dan percintaan. Permasalahan yang dialami ini berdampak pada tingkah laku siswa di sekolah yang cenderung mengekrpresikan lukanya melalui tindak berontak juga minat belajar yang kurang.

Salah satu contoh kasus yaitu permasalahan yang dialami Adi (nama samaran). Dia memiliki hubungan kurang baik dengan kedua orang tuanya. Ke dua orang tua Adi bekerja sebagai wirausaha di Desa Cibadak, Oleh karenanya, waktu yang diluangkan orang tua Adi bersama Adi semenjak kecil sangatlah sedikit. Dan ketika mereka berkumpul di rumah pada senja hari, orang tua Adi sudah merasa kelelahan untuk sekedar menanyakan kabar atau bersendau gurau.

Keadaan yang dialami Adi membuatnya merasa tidak memiliki rumah. Ia merasa tidak memiliki wadah untuk leluasa bercerita dan berbagi rasa. Ia pun berpikir jika ia tidak mendapatkan dukungan sosial dari orang taunya. Oleh karena itu, ia mengungkapkan rasa sakitnya dengan berontak di sekolah.

Adi pun menyadari bahwa ia melanggar beberapa aturan sekolah. Seperti mengeluarkan baju, memakai sepatu biru, membawa handphone, mengatakan kata kasar, dan mewarnai rambut hitamnya. Ia juga tidak berminat untuk belajar, karena merasa tidak ada orang yang peduli pada dirinya. Sehingga ia kerap kali dikatakan bodoh oleh rekan-rekannya.

Padahal, Adi ini memiliki potensi lebih pada bidang sepak bola. Kelebihan Adi sebenarnya mampu didukung dan diasah jika orang-orang di sekelilingnya lebih fokus pada kemampuannya itu. Akan tetapi, perilakunya yang cenderung berontak menutupi kelebihannya.

Adi yang di rumah sudah merasa tidak betah, kemudian di sekolah merasa tidak menerima dukungan, mengakibatkan ia suka bolos masuk kelas. Ia lebih senang menghabiskan waktu di luar sekolah untuk bersenang-senang bersama rekan-rekan yang ia rasa senasib sepenanggungan dan mengerti apa yang ia rasakan.

Permasalahan Adi yang terjadi di sekolah sebenarnya mampu di atasi oleh seorang konselor dalam layanan bimbingan dan konseling yang disediakan oleh sekolah. Konselor mampu berhubungan dengan individu yang beragam secara pribadi, sosial, dan latar belakang. Akan tetapi, SMA/SMK/MA/Sederajat di Desa Cibadak ini belum memiliki sosok konselor yang mampu menerima segala keluh kesah siswa dan mengatasinya dengan bijaksana.

Oleh karena itu, jika saya menjadi seorang konselor SMA/SMK/MA/Sederajat Cibadak, saya akan berusaha untuk mengatasi permasalahan yang dialami Adi. Merangkulnya agar ia lebih berminat sekolah dan belajar juga menyadarkannya untuk berperilaku sesuai norma dan aturan supaya diterima di lingkungan.

Saya akan menjadi wadah bagi Adi dan siswa lainnya untuk membuka diri mereka. Menerima mereka dengan berbagai pengalaman, pendapat, dan latar belakang. Sehingga mereka mampu beraktivitas optimal dalam kegiatan belajar mengajar juga bermasyarakat.

Saya pun akan memberikan solusi dan informasi mengenai kebingungan mereka akan dunia perkuliahan. Hal ini dikarenakan di desa Cibadak minat kuliah mereka ada, tapi mereka kurang informasi mengenai proses masuk kuliah dan ketakutan akan bayaran tinggi. Mereka kurang tersosialisasikan mengenai beasiswa-beasiswa yang ada di perkuliahan.

Saya pun ingin membuat penyuluhan bagi rekan-rekan guru lainnya untuk mementingkan dukungan sosial bagi siswa. Bagaimana pun juga seorang siswa pasti memiliki potensi untuk lebih dari orang lain. Saya ingin mereka fokus pada kelebihannya bukan pada apa kekurangannya. Saya ingin menciptakan siswa yang well-being di sekolah agar mereka berbahagia dan merasa sekolah sebagai rumah ke-dua.

Saya ingin membuat program ‘Siswa Bahagia’ dengan menghilangkan stereotip negatif  terhadap layanan bimbingan dan konseling di sekolah yang hanya menerima orang-orang ‘nakal’ saja. Saya ingin membuka ruang BK bagi siapa saja yang ingin berbagi cerita agan mereka merasa dihargai dan berharga.