Tag Archives: Kegiatan bersama Masyarakat

UMKM Teng-teng – Dusun Mekarsari, Cibadak, Kab. Ciamis

Teng teng adalah makanan ringan khas sunda yang terbuat dari berondong beras yang diberi cairan gula merah. Rasanya manis dan teksturnya padat renyah.

Salah satu pemilik usaha ini di Desa Cibadak biasa dipanggil Pak Popo. Pabrik yang tidak hanya memproduksi teng-teng ini berada di dekat Masjid Agung Banjarsari. Dengan modal satu kilogram beras seharga 7-13 ribu rupiah, teng-teng sudah dapat diproduksi.

Peserta KKNM mencoba turut serta mengaduk cairan gula merah (11/01/2017)

Cara pembuatan teng-teng ini cukup sederhana. Beras yang telah diolah hingga mengembang menjadi berondong kemudian dilumuri dengan cairan gula merah kemudian dipadatkan dan dipotong berbentuk balok.

Bersama Pak Popo di pabrik makanan ringan miliknya (11/01/2017)

Pemasaran produk hanya sesuai pesanan, peredarannya ada di daerah Purbalingga, Purwokerto, Banyumas, Cilacap, Jakarta, Ciamis, dan Kabupaten Pangandaran. Harga jual teng-teng per satu bungkusnya seharga 17 ribu rupiah untuk distributor. Dari distributor ke konsumen dijual 20 ribu rupiah. Produksi biasanya dilakukan dari pagi sampai sore hari, namun kuantitasnya disesuaikan dengan pesanan. Permintaan teng-teng akan tinggi saat musim hajatan, maulud, silih maulud, dst.

UMKM Rangginang – Dusun Cibeureum, Cibadak, Kab. Ciamis

Desa Cibadak merupakan desa yang memiliki banyak usaha home industry; salah satunya adalah industri penganan tradisional Sunda, rangginang. Rangginang adalah makanan yang terbuat dari ketan yang dibumbui terasi dan bawang putih, dicetak berbentuk bundar lalu dijemur hingga kering kemudian digoreng.

Ibu Uti adalah satu-satunya pembuat rangginang di Desa Cibadak. Beliau bekerja bersama tiga ibu-ibu lainnya yang tinggal bertetanggaan dengan rumah Ibu Uti. Usaha ini sudah berjalan beberapa tahun, namun memang sengaja tidak terlalu diperbesar karena hanya bertujuan untuk mengisi waktu luang namun dapat menambah sedikit penghasilan mereka.

Proses memasak beras ketan yang masih tradisional menggunakan kayu bakar (11/01/2017)

Peserta KKNM mencoba turut mencetak rangginang (11/01/2017)

Produksi rangginang dimulai dari subuh dengan memasak beras ketan, lalu mencetak rangginang secara manual dengan tangan dan cetakan besi berbentuk bundar. Ketan yang dicetak sebaiknya masih dalam kondisi panas agak tidak lengket, namun jika lengket cukup basuhi tangan dengan air. Dalam mencetak ranginang, caranya bukan menekan nasi ketan hingga memenuhi cetakan, namun menaruh nasi ke dalam cetakan kemudian disebarkan dengan jempol perlahan-lahan. Setelah tercetak, rangginang basah ditaruh diatas papan yang terbuat dari bambu untuk kemudian dijemur. Pukul 11, semua kegiatan produksi sudah beres karena jika lebih dari itu, proses penjemuran yang memanfaatkan sinar matahari tidak akan maksimal.

Rangginang siap dijemur (11/01/2017)

Penjemuran rangginanag (11/01/2017)

Dalam sehari, Ibu Uti memasak sekitar 24 kilogram beras ketan yang dapat menghasilkan kurang lebih 20kg rangginang. Jenis rangginang yang biasa diproduksi adalah rangginang ketan putih, rangginang ketan hitam dan rangginang manis yang menggunakan gula merah sebagai pemanis. Ketan yang digunakan bukan berasal dari Desa Cibadak karena desa tersebut tidak menanam beras ketan.

Produk rangginang yang sudah dikemas (11/01/2017)

Satu kilogram rangginang dijual seharga 16 ribu rupiah. Produk ini hanya dipasok ke pasar dan didatangi langsung oleh pelanggannya untuk keperluan oleh-oleh atau acara khusus, Ibu Uti tidak berencana memasarkanya lebih luas lagi karena produksinya pun tidak banyak.

Bersama Ibu Uti (kerudung hijau) dan ibu-ibu lain yang sedang membuat rangginang (11/01/2017)