Pendidikan

Gambar 1 TK Budi Asih

TK Budi Asih berada di seberang Balai Desa Jatipamor dan termasuk dalam Blok Desa. TK Budi Asih memiliki tiga kelas, yaitu kelas A, B1, dan B2. Kisaran umur siswa yang berada di TK adalah 3-6 tahun, hal ini karena anak dapat bersekolah di TK semuda apapun, asalkan anak sudah mau bersekolah. Tiap kelas sendiri terdiri dari kurang lebih 15 siswa yang diajar oleh seorang guru. Seharusnya, sebaiknya dalam satu kelas terdapat 1 orang guru dan 1 orang pendamping, namun karena 1 guru harus memegang 15 anak agar dana pemerintah dapat diturunkan, maka hal tersebut tidak dapat diterapkan. Para siswa bersekolah di TK dari hari Senin sampai Sabtu dari jam 8-10 pagi. Materi yang diajarkan di TK berupa membaca dan berhitung sederhana, terutama di kelas B. Hal ini disebabkan tuntutan dari SD yang mengharuskan anak sudah bisa membaca saat masuk ke SD.

Gambar 2 SDN Jatipamor 1

SDN 1 Jatipamor berada persis di sebelah TK Budi Asih dan juga termasuk Blok Desa. SD 1 merupakan SD pertama yang berdiri di Jatipamor, dan memiliki 213 murid. Terdapat kurang lebih 40 siswa di setiap kelas. Hal ini merupakan kendala karena menurut peraturan seharusnya hanya terdapat 20 orang di setiap kelas, namun hal ini tidak dapat diterapkan karena kurangnya gedung dan ruang kelas. Meskipun begitu, sudah terdapat perpustakaan di sekolah ini. Siswa di SD 1 kebanyakan asli desa Jatipamor, meskipun ada juga beberapa murid dari desa lainnya. Tenaga pendidik di SD 1 sendiri jumlahnya kurang 2 orang yang dibutuhkan, terutama untuk guru olahraga. SD 1 mendapatkan dana BOS dari pemerintah karena merupakan SD Negeri, sehingga siswa bersekolah gratis dan tidak perlu membeli buku ataupun seragam. Guru di SD 1 juga sudah memiliki laptop dan memiliki fasilitas proyektor di sekolah. SD 1 sering mendapatkan juara umum di kecamatan, meski siswanya memiliki kendala di mata pelajaran bahasa inggris dan matematika. Pelajaran bahasa inggris sendiri mulai diajarkan dari kelas 4. Siswa bersekolah di SD dari jam 7 sampai jam 12 siang dari hari Senin sampai Sabtu, dan memiliki ekstrakurikuler berupa qasidah dan pramuka. Siswa dapat bersekolah di SD ini tanpa melalui tes masuk.

Gambar 3 SDN Jatipamor 2

SDN 2 Jatipamor sendiri berada persis di sebelah Balai Desa, dan memiliki 206 siswa. Masalah yang dimiliki SD 2 serupa dengan SD 1, yaitu masalah kurangnya sarana ruangan. Meskipun begitu, tidak ada masalah di jumlah tenaga pendidik. Secara keseluruhan, kondisi SD 2 sama dengan SD 1, kecuali tidak adanya perpustakaan karena kurangnya lahan dan adanya ekstrakurikuler baca tulis Al-Quran.

Gambar 4 SD IT Mutiara Hati

SD Islam Terpadu Mutiara Hati berada di perbatasan Desa Jatipamor dan baru berdiri selama 3 tahun, sehingga hanya ada kelas 1,2, dan 3 dengan jumlah total 64 siswa. SD ini merupakan SD swasta, dan hanya ada 3 warga Jatipamor yang bersekolah di SD ini, sisanya berasal dari desa Cikijing, Sindang, Talaga, dan lainnya. Berbeda dengan SD lain di Jatipamor, terdapat mata pelajaran khusus yaitu mata pelajaran Al-Quran dan terdapat guru mengaji khusus. Guru di SDIT sendiri hanya ada 1 yang merupakan guru PNS. Untuk dapat masuk SDIT ini, siswa juga harus mengikuti psikotes yang bertujuan untuk melihat kesiapan anak untuk dapat memasuki sekolah dasar. Siswa harus membayar 5 juta rupiah ketika masuk untuk uang gedung, buku, dan seragam, serta membayar SPP sebesar 200 ribu rupiah per bulan. Sekolah ini sendiri belum mendapatkan dana BOS dari pemerintah karena baru mendapat izin di tahun 2016. SDIT Mutiara Hati menggunakan kurikulum yang berisi life skill, kurikulum yayasan, serta kurikulum nasional. Kelas 1 dan 2 bersekolah dari hari Senin sampai Jumat, sementara kelas 3 dari hari Senin sampai Sabtu, dengan tambahan pelajaran bahasa inggris dan bahasa arab. Semua kelas bersekolah dari jam 7 sampai jam 2 siang dan memiliki ekstrakurikuler pramuka. SDIT sendiri memiliki kendala saat ingin dibangun dengan Kepala Desa, namun lama kelamaan mendapatkan respon positif dari masyarakat sekitar.

Di desa Jatipamor sendiri tidak terdapat sekolah setingkat SMP, namun langsung  ke tingkat selanjutnya yaitu SMK. SMK Bina Wira Usaha (BWU) terletak berbatasan dengan desa Cicanir dan memiliki akses yang cukup sulit dilalui karena berada jauh dari jalan raya. SMK BWU memiliki empat jurusan yaitu Teknik Kendaraan Ringan (TKR) yang merupakan jurusan yang paling diminati, diikuti Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Akuntansi, serta Multimedia. SMK BWU baru berdiri selama 3 tahun, dengan siswa berjumlah 110. Siswa SMK BWU memiliki perbandingan laki laki perempuan 70:30  yang berasal dari Jatipamor, Lemahsugih, dan Cikijing. Siswa dapat bersekolah di SMK BWU dengan gratis karena mendapatkan dana BOS meskipun sedikit tersendat dan mengakibatkan masalah seperti susahnya mengakses internet dengan bebas. Untuk dapat bersekolah di SMK BWU, calon siswa harus memenuhi syarat berupa lulus SMP dan mengikuti ujian kemampuan akademik yang bertujuan untuk pemetaan kemampuan akademik siswa. SMK BWU menggunakan kurikulum KTSP dengan tambahan bahasa asing berupa bahasa Jepang, Korea, dan Inggris. Ekstrakurikuler di SMK ini adalah futsal, voli, pramuka, dan paskibra. Siswa SMK BWU beberapa ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi meskipun tidak semua. Warga sekitar cukup antusias dan berminat untuk bersekolah di SMK, meskipun akses dan biaya sekolah cukup memengaruhi minat mereka