Aspek Kebudayaan di Desa Jatipamor

Gambar 1 Kunjungan ke Group Kesenian Karinding 

Tim KKNM berkunjung ke grup kesenian karinding yang ada di desa Jatipamor. Karinding sendiri masuk ke desa Jatipamor sekitar tahun 2010 an dibawa oleh grup kesenian dari Bandung. Karena rasa ketertarikan pada kesenian ini, pada 2011 mulailah dibentuk grup kesenian karinding. Awalnya masyarakat diwilayah Jatipamor kurang menerima kesenian ini, karena dahulu kesenian ini digunakan untuk ruwatan seperti untuk ruwatan pengusiran hama. Masyarakat masih menganggap bahwa kesenian ini masih berbau mistis dan belum memahami pemaknaan kesenian sunda itu sendiri. seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menerima kesenian ini, karena pendekatan dan penyesuaian yang saat ini kesan mistis pada karinding mulai luntur. Karinding di desa ini dikolaborasikan dengan saluang, celempung, dan celempung kerenteng. Kesenian karinding di desa ini biasanya tampil pada acara pernikahan, dan acara penyucian alat-alat keramat di museum Talaga.

Gambar 2 Kunjungan ke Tempat Kesenian Gembyung

Selanjutnya tim KKNM mengunjungi kesenian gembyung yang dikelola oleh Pak Haji Ikhsan. Gembyung pertama kali masuk ke desa Jatipamor sekitar tahun 1980 an. dahulu kesenian ini disebut Terbang, yang asalnya dari Sumedang. Selain gembyung, ditempat pak Haji Ikhsan ini pun juga terdapat kesenian hadro. Hadro sendiri mulai masuk ke desa Jatipamor tahun 2000 an. berbeda dengan gembyung di desa lain yang sudah mulai menghilang, kesenian gembyung di desa ini bisa dibilag cukup berkembang. Hal ini dikarenakan pak Haji Ikhsan sebagai pengelola kesenian ini, memberdayakan anak-anak yang mengaji ditempatnya untuk ikut belajar kesenian ini, sehingga setiap tahunya selalu ada regenerasi hingga saat ini terus berkembang secara turun temurun. Kesenian ini berbeda dengan karinding yang mana karinding lebih ke nyanyian sunda, sedang gembyung dan hadro lagu yang dibawakan hanya solawat saja. Kesenian ini cukup digemari oleh masyarakat Jatipamor karena instrumen yanng dibawakan sudah mengikuti perkembangan jaman.

Gambar 3 Kunjungan ke Rumah Pak Haji Didi

Pada hari ini tim KKNM mengunjungi rumah seorang dalang bernama pak Didi. Pak Didi sendiri adalah satu-satunya dalang yang ada di Jatipamor.  Karena sejak kecil sudah menyukai wayang, ia mulai mengembangkan kecintaanya dan belajar perwayangan pada tokoh wayang yang terkenal yaitu bapak Amung Sutarya, setelah lulus, pak Didi mulai mendirikan Pujaran Sunda Manik tahun 2007.

Gambar 4 Kunjungan ke Tempat Pelatihan Wayang

Pada malam minggu, tim KKNM mengunjungi latihan rutin yang diadakan oleh kelompok seni gamelan yang ada di Desa Jatipamor. Grup kesenian ini sekaligus grup pengiring untuk pertunjukan wayang golek pa Didi. Kombinasi gamelan yang ada di desa ini yaitu rincik, peking, gamblang, penerus, saron, bonang, jengglong, gong, dan gendang. Sayangnya, kesenian ini hanya digawangi oleh bapak-bapak saja, dan kurang diminati oleh anak mudanya.

Gambar 5 Kunjungan ke Tempat Kesenian Kecapi

Tim KKNM mengunjungi salah satu rumah yang mengembangkan kesenian kecapi di desa Jatipamor. Kecapi disini dikombinasikan dengan gendang dan suling. Tidak hanya itu, kecapi juga bisa dikombinasikan dengan gitar dan alat musik modern lainnya. Grup kesenian kecapi ini baru diresmikan kepengurusannya pada Agustus 2016. Karena para pemuda di Rt 05 Desa Jatipamor merasa perlu adanya wadah untuk melestarikan kesenian sunda. Mengingat saat ini kesenian daerah sudah mulai dilupakan oleh generasi muda. Para pendiri grup kesenian kecapi ini dulunya adalah para personil dari grup kesenian karinding, yang mana sejak 2013 sudah mulai fakum. Tujuan dari dibentuknya grup kesenian ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran akan kecintaan pada kesenian lokal. Sayangnya grup kesenian ini masih belum memiliki sangggar yang mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan latihan rutin.