Aspek Ekonomi di Desa Jatipamor

Kondisi ekonomi masyarakat desa Jatipamor terbagi menjadi beberapa mata pencaharian dalam berbagai bidang, dengan sebagian besar mata pencaharian penduduk desa Jatipamor adalah bertani. Sebagian besar para petani itu menggarap lahan pesawahan milik orang lain, ada pula yang mengelola lahan pesawahan miliknya dengan dibantu beberapa pekerja untuk menggarap lahan pesawahan mereka.

Selain bermata pencaharian sebagai petani, ada pula yang merantau ke daerah lain, bahkan lebih banyak yang keluar dari Majalengka itu sendiri, misalnya ke kota Bandung, Jakarta, dan kota kota besar lainnya di Jawa Barat yang dinilai memiliki lapangan pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan besar, bahkan ada pula yang merantau hingga keluar pulau Jawa, ada pula yang berjualan di pasar Talaga, dan hanya sebagian kecil yang bekerja pada instansi negeri maupun swasta.

Di desa Jatipamor ini terdapat kelompok tani yang biasa disebut GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) desa Jatipamor. Dalam bidang pertanian, para petani desa Jatipamor banyak yang menemukan kendala, seperti hama tikus yang sulit untuk dibasmi, sehingga padi hasil pertaniannya yang habis dimakan tikus, tentunya akan berdampak mengurangi jumlah padi yang didapatkan pada saat panen.

Di desa Jatipamor tidak ada koperasi, sehingga sedikit menyulitkan penduduk dalam hal keuangan untuk membantu mata pencaharian mereka. Tetapi disediakan BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) yang diperuntukkan untuk simpan pinjam warga desa Jatipamor, tokoh masyarakat, dan untuk dana desa. Untuk melakukan simpan pinjam di BUMDES ini ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu kelompok (dalam hal ini Gapoktan), tujuan harus jelas (misalnya untuk pembelian bibit padi yang unggul, pembelian pupuk, dan pembelian pestisida).

Selain kelompok tani atau Gapoktan itu, di blok Cilimus terdapat usaha home industri yang mengelola atau membuat kripik singkong, oleh-oleh Lampegan, Gemblong ASFAN Sunapulo. Awalnya hanya dijual di rumah saja seharga 20 ribu per kilogram nya. Industri rumahan ini sudah berdiri sejak tahun 2012 atau sekitar 4 tahunan. Awalnya membuat hanya untuk isengt-iseng saja, namun karena banyaknya permintaan dari konsumen, sehingga sekarang sudah di distribusikan hingga keluar Majalengka, seperti ke kota Sukabumi, Jakarta, dan Semarang. Di industri rumahan ini di kelola oleh ibu-ibu sebanyak 6 orang. Industri rumahan ini tidak bisa berkembang lebih pesat lagi, dikarenakan terkendala modal.

Apabila dikembangkan lagi, industri rumahan ini bisa berubah menjadi sebuah pabrik yang dapat membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk desa Jatipamor dan sekitarnya yang tidak memiliki pekerjaan yang tetap, atau pemuda pemudi yan telah lulus sekolah sehingga tidak harus merantau ke luar daerah untuk bekerja.

Sumber modal lah yang menjadi kendala industri rumahan ini tidak bisa memproduksi lebih banyak lagi hasil produksinya. Dari segi konsumen, sudah banyak yang menyukai produk ini. Selain itu, apabila ada pendistribusian dari pemerintah atau para investor untuk mengembangkan usaha ini, untuk membeli mesin industri agar mampu memproduksi lebih banyak produk-produk ini, dan kota tujuan pendistribusiannya menjadi lebih luas apabila hasilnya banyak. Atau bahkan bisa saja menjadi produk oleh-oleh khas.

Ditinjau dari segi keadaan ekonomi masyarakat, sebagian besar dapat di kategorikan dalam kelas ekonomi menengah ke bawah. Karena dilihat dari segi mata pencahariannya sebagai petani, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apabila dihubungkan dengan pendidikan juga, sebagian besar hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang SMA, hanya sedikit atau sebagian kecil yang menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi, karena terkendala masalah ekonomi juga. Tentunya berakibat pada aspek sumber daya manusia nya sendiri. Sulitnya lapangan pekerjaan, sehingga secara ekonomi di kategorikan menengah kebawah.