Aspek Keagamaan di Desa Jatipamor

Aspek kehidupan agama diidentifikasi secara langsung dengan mengikuti kegiatan keagamaan Desa Jatipamor seperti kegiatan shalat berjama’ah, pengajian anak-anak dan pengajian bapak-bapak atau ibu-ibu yang membuat kami mengetahui kegiatan keagamaan di Desa Jatipamor dan melakukan wawancara kepada beberapa tokoh agama setempat.

Dalam kehidupan beragama, masyarakat Desa Jatipamor secara keseluruhan memeluk agama Islam. Fasilitas penunjang masyarakat untuk beribadah terdiri dari 3 masjid yang tersebar di blok Lampeugan, Sunapulo, dan Desa, 11 musholla yang tersebar di setiap RT. Adapun fasilitas penunjang kegiatan keagamaan lainnya meliputi gedung madrasah, pondok pesantren dan sekolah dasar Islam terpadu.

Mengenai pendidikan keagamaan, desa Jatipamor telah memiliki satu pondok pesantren, satu madrasah, satu sekolah dasar Islam yang tujuan utamanya adalah sebagai tempat bagi anak-anak Jatipamor untuk mempelajari Islam. Selain itu, terdapat kegiatan keagamaan lainnya, seperti pengajian malam yang dilaksanakan di beberapa musholla Jatipamor dan ada pula yang di rumah pengajarnya.

Berbicara kesenian Islam, di Jatipamor telah berdiri kesenian Islam berupa rebana dan gembyung yang dibina oleh Haji Ihsan dan anaknya. Grup kesenian Islam diberi nama “Ar-Rifqoh”. Kesenian ini cukup berkembang di Jatipamor dan mendapatkan tempat yang baik bagi warga setempat. Bahkan, “Ar-Rifqoh” pernah menjadi perwakilan Majalengka oleh Bupati Majalengka untuk pentas dalam acara keislaman di Bekasi.

Satu hal lain yang tidak kalah penting ialah apabila tiba peringatan hari besar Islam, masyarakat Jatipamor sangat antusias dalam menyambutnya. Mereka biasa memperingatinya dengan mengadakan tabligh akbar oleh beberapa masjid dan musholla setempat yang di dalamnya meliputi penampilan kesenian Islam dan ceramah yang menghadirkan ulama hebat. Hal ini sebagaimana yang diceritakan Kang Fauzi Ihsan, putra dari Haji Ihsan dalam wawancara kami di rumahnya.

 

Kegiatan Mengajar di Madrasah Al-Anshor

Memasuki minggu ke 3 di Desa Jatipamor, kami mendapatkan kesempatan untuk berkunjung dan mengikuti kegiatan mengajar di madrasah Jatipamor yang bernama Madrasah Al-Anshor yang dipimpin oleh Ibu Dedeh Dhuhriyah. Kegiatan belajar mengajar di Madrasah Al-Anshor dilaksanakan setiap senin-sabtu mulai pukul 15.00—16.30 WIB. Aktivitas belajar-mengajar di madrasah ini begitu menyenangkan, tidak hanya para pengajar yang semangat dan ikhlas dalam mengajar, para murid pun begitu antusias dalam menghadiri kelas sore hari ini. Madrasah Al-Anshor memiliki dua jenjang dalam pendidikannya, yaitu jenjang TPA (Taman Pemdidikan Anak-anak) untuk murid-murid yang baru belajar baca-tulis dan DTA (Diniyyah Ta’limiyyah Awwaliyyah) untuk murid-murid yang bisa baca-tulis.

Di tengah antusias anak-anak Jatipamor dalam mempelajari Islam, ternyata terdapat masalah yang cukup penting pada remaja Jatipamor yang beranjak dewasa. Mereka jarang sekali mengikuti kajian-kajian Islam yang berada di Jatipamor. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Bu Aliyah selaku pendiri IKRAR (Ikatan Remaja Jatipamor). Bu Aliyah menyampaikan bahwa semangat anak remaja Jatipamor dalam mempelajari Islam begitu memprihatinkan. Dari sekian banyak remaja Jatipamor hanya segelintir saja yang masih mengikuti kajian-kajian Islam. Kami pun membuktikannya secara langsung ketika kami mengikuti kajian IKRAR yang diadakan rutin dua minggu sekali di Madrasah Al-Anshor dengan peserta yang hanya dihadiri oleh remaja yang menjadi panitia acara itu.

Meskipun demikian, Bu Aliyah menyampaikan kepada kami bahwa IKRAR yang baru beliau rintis ini akan terus berusaha mengajak para remaja Jatipamor untuk semangat mempelajari Islam dan menjadikan IKRAR ini sebagai wadah bagi remaja Jatipamor untuk mengembangkan potensinya.