Penyuluhan Pertanian Desa Jatipamor

Penyuluhan pertanian yang dilakukan di Desa Jatipamor bertujuan untuk mengurangi beban para petani yang telah mengalami gagal panen selama 7 musim tanam atau selama 3 tahun. Hal tersebut berdampak kepada ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di Desa Jatipamor sehingga kami sebagai mahasiswa Unpad merasa tergerak untuk memberikan bantuan kepada para petani yang merupakan mata pencaharian utama di Desa Jatipamor. Masalah pertanian yang terdapat di Desa Jatipamor adalah hama tikus yang mengakibatkan gagal panen. Hama tikus ini tidak hanya menyerang tanaman padi tetapi tanaman hortikultura lain seperti jagung, ubi jalar, kedelai, dll. Hama tikus ini menyerang dengan cara menggerogoti batang tanaman padi saat padi memasuki usia vegetatif atau bunting sehingga mengakibatkan kegagalan bulir padi terbentuk yang selanjutnya dapat membuat tanaman padi mati.

Saat mewawancarai petani untuk mendapatkan data tentang pengendalian tikus yang sudah dilakukan ternyata telah dilakukan berbagai macam cara agar tikus tidak memakan hasil padi mereka, mulai dari penanaman secara polikultur, penanaman dengan cara jajar legowo, pergantian varietas padi, dan penggunaan perangkap. Dari seluruh cara yang dilakukan tidak mendapatkan hasil yang signifikan. Setelah dicari apa penyebab peledakan populasi tikus sawah yang mengakibatkan gagal panen adalah akibat aliran sungai yang terlalu rendah sehingga mengakibatkan tiku bersarang di dekat aliran sungai.

Pada hari Senin 23 Januari 2017 penyuluhan pertanian dilaksanakan di Balai Desa Jatipamor dengan mengundang para petani dan Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN). Materi yang diberikan dalam penyuluhan adalah tentang Pengendalian Hama Tikus Sawah dengan Cara Biologi, Trap Barrier, dan Pestsida Nabati. Pengendalian tikus sawah dengan cara biologi dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami yaitu ular dan burung hantu. Sarang burung hantu dapat diletakkan di lahan sawah agar saat malam hari burung hantu tersebut dapat mencari tikus yang merupakan makan malam bagi burung hantu tersebut. Pengendalian dengan cara trap barrier dapat dilakukan pada lahan sawah datar. Cara tersebut merupakan teknologi perangkap tikus dengan menggunakan perangkat bubu dan tanaman pemikat. Sedangkan dengan pestisda nabati bahan-bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang sering ditemukan di pasar seperti jengkol, cabai, mengkudu, dan gadung. Dengan penggunaan pestisida nabati dapat mengurangi penggunaan rotensida yang merupakan racun tikus yang berbahan kimia sehingga dapat membahayakan lingkungan sekitar yang dapat mengakibatkan pencemaran. Pengendalian dengan cara-cara tersebut harus dipadukan minimal dua cara dan diubah-ubah saat musim tanam baru agar populasi hama tikus dapat ditekan atau dapat berkurang.