KKNM-PPMD INTEGRATIF UNPAD 2017 Desa Karanganyar, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan

Sejarah

Karanganyar ( 1931 – 2017 )

Luas desa karanganyar meliputi wilayah tanah darat dan sawah dan perkebunan milik mayarakat desa karanganyar  dengan total 76,98 Ha  Karanganyar  termasuk desa daerah perbatasan antara kabupaten kuningan dan majalengka  berada di kaki gunung terbesar di jawa barat sesuai letak geografisnya  hampir wilayah desanya berada pada kemiringan antara 20 sampai  25  derajat  ke arah tenggara laut,  dengan pasokan air bersih dari tetangga desa yaitu desa situsari,

Desa parung adalah cikal bakal penamaan desa karanganyar, menurut Rusdi  ( 1945 )  desa karanganyar  berasal dari kata Makalangan anyar yang dalam bahasa indonesia artinya adalah peranan baru, Makalangan Anyar adalah nama tempatm menuntut ilmu beladiri yang sengaja didirikan untuk membentuk kekuatan sebagai benteng pertahanan Karena pada saat itu tengah terjadi peperangan dengan  hindu . sehingga ada banyak yang menuntut ilmu beladiri dari daerah lain seperti dari daerah ciawigebang  terbukti salah satu tokoh “ Kuwu Jamikar adalah keturunan dari daerah ciawi, warga ciawi tersebut  menikah dengan warga setempat. Makalangan Anyar didirikan oleh Embah Demang Soka yang merupakan adik dari Suna Parung,  dari sumber lain antara Embah Demang Soka dan Sunan Parung selalu berselisih sehingga Embah Demang Soka Memutuskan untuk tinggal di tempat lain dengan membuka paguron silat hal ini bisa ditelusuri paguron tersebut masih ada, salah satunya Abah Basuni berusia  100 tahun lebih  disebut sebut sebagi penerus paguron tersebut  dan salah satu gerakan kesenian bela diri tersebut bisa dilihat dari seni rudat yang pernah ada pada masa pemerintaha Kuwu Ewo atrawa ( 1989-1998). Tidak ditemukan bukti sejarah mengenai padepokan tersebut namun seiring dengan perjalanannya  pakalangan anyar adalah sebuah desa yang sekarang disebut desa karanganyar sekitar tahun 1931.         ( Rusdi )

Sebelum Embah Demang Soka Membuka Pakalangan Anyar  (Karanganyar) tidak jauh dari tempat tersebut sudah dihuni oleh masyarakat yang menganut kepercayaan dinamisme dan animisme meskipun sudah memeluk agama islam mereka selalu melakukan persembahan dengan memotong domba dengan istilah Ngarot ( Hajatan Desa ) .  Kegiata tersebut masyarakat setempat menyebutnya dengan hajat desa yang isi kegiatannya melantunkan  tembang Saliasih dengan penari  yang bernama “ Minten”  hajatan tersebut terus dilakukan turun temurun sampai pada terbentuknya pemerintahan, dan pada pemerintahan tersebut baru ada pemukiman warga sebanyak 35 rumah dan tidak diketahui siapa peminpinya.

Ritual Ngarot telah berlangsung lama yang isi kegiatannya mengarah pada kemusyirkan, sehingga salah seorang tokoh yang masih keturunan dari Kuwu Jamikar yaiutu H. Imam Ulama yang disegani pada masa itu di bantu oleh murid murid beliau salah satunya yaitu K.H. Faqih merubah kebiasaan tersebut menjadi acara syukuran dengan cara yang islami kemudian ritual ngarot di rubah menjadi tilawatan  sementara lantunan lagu salisih dihilangkan, kegiatan tersebut ( hajat desa ) pada awalnya dilakukan di dua tempat yang berbeda di pasarean dan di lumbung padi, sementara tilawatan hanya terkonsentrasi pada pasarean dengan memotong kambing dan langsung dihidangkan di tempat itu sebagai rasa syukur atas karunia yang besar dari Allah SWT.

Post Navigation