Prasasti Geger Hanjuang

Adakah diantara kalian yang pernah mendengar sejarah adanya Kabupaten Tasikmalaya? Mungkin beberapa dari kalian masih sedikit ingat dengan nama-nama prasasti yang dihapal ketika kelas 4 SD. Prasasti Geger Hanjuang merupakan salah satu artefak yang dapat menjelaskan tentang dimulainya peradaban di Kabupaten Tasikmalaya. Berikut riwayat singkat tentang kerajaan yang pernah berkedudukan di Tanah Parahyangan ini.

Prasasti Geger Hanjuangg merupakan prasasti ke 10 yang ditemukan di Jawa Barat. Ia ditemukan oleh K.F. Holle sekitar tahun 1877, kemudian dibawa dan disimpan oleh Dr. Krom pada tahun 1914. Kini masih terpelihara dan disimpan di Museum pusat Jakarta dengan nomor inventaris D.26. Pembacaan prasasti yang pertama dilakukian oleh K.F. Holle dan hasil bacaannya ditulis dengan judul :Bescheeven Steen Uit Afdeeling Tasikmalaya Residenties Preanger, TBG 24, 1877 halaman 586. Kemudian koreksi C.M. Pleyte pada tulisannya : Het Jaartal Op Den Batoe Toelis Nabij Buitenzorg, TBG. 53, 1911. Akhirnya koreksi Drs. Saleh Danasasmita serta Drs. Atja yang untuk kedua kalinya, hasil bacaan menjadi :

  • Tra Ba I Gunna Apuy Nas
  • Ta Gomati Sakakala Ru Mata
  • K Disusu (K) Ku Batari Hyang Pun

Tra Ba I Gunna Apuy Nasta Gomati Sakakala, artinya tanggal 13 bulan Badrapada tahun 1003 Saka. Ru Mata K Disusu (K) Ku Batari Hyang pun, artinya rumatak (maksudnya rumatak) nama sebuah tempat di Galunggung disusuk oleh Batari Hyang.

Tanggal 13 Badrapada Saka, setelah dihitung sama dengan 21 Agustus 1111 Masehi. Yang dimaksud rumatak ialah nama sebuah tempat di Linggawangi dan selain itu ada tempat yang di beri nama Saung Gede yang dalam sejarah disebut Saung Galah artinya Keraton, letaknya tidak jauh dari kabuyutan sanghyang. Linggawangi adalah sebuah kabuyutan yang dianggap sakral pada jamannya.

 

Peristiwa Nyusuk terdapat dalam berita dari tiga prasasti, ialah:

  • Batu tulis astana gede kecuali Kabupaten Ciamis disebut Prabu Wastu Kencana Marigi Sakuriling Dayeuh.
  • Batu ditulis di Bogor, disebut Sri Baduga Maharaja Nyusuk Na Pakuan.
  • Prasasti Geger Hanjuang.

 

Kata Nyusuk menurut pustaka nagara kertabumi diartikan amegahing, artinya: membuat parit pertahanan sekeliling pusat kerajaan. Memang betul, bahwa disekitar itu masih terdapat nama kampung Parigi dan kampung Candi. Pengertiannya ialah, bahwa pada tanggal 13 Badrapada itu, Batari Hyang mengerjakan pembuatan parit pertahanan keraton di ibukota kerajaan Galunggung yang disebut Rumatak. Artinya suatu pendirian kerajaan, perubahan dari kebataraan yang tadinya secara turun temurun berkedudukan sebagai Batara Sangiang Guru Galunggung.

Ia disebut Batari Hyang, karena dirinya seorang wanita. Ia cukup unik karena sampai saat ini, di Jawa Barat ialah satu-satunya yang diabadikan dalam prasasti. Lebih unik lagi, sebab diantara raja-raja di Jawa Barat yang diberitakan pernah memperkokoh pertahanan ibu kotanya dengan parit, dia pulalah satu-satunya tokoh wanita. Tindakan Nyusuk ini tentunya diambil segera setelah mewarisi tahta Galunggung.

Inilah koreksi tentang batara Hyang yang pada naskah hari jadi Tasikmalaya disebut sebagai batari yang melantik sang Lumahing taman menjadi prabu di Galunggung. Hal ini dikoreksi, karena tahunnya menurut negara kerta bumi tidak cocok. Sang lumahing taman atau yang bergelar ratu saung galah prabu raga suci, memerintah pada tahun 1219-1225 saka atau 1297-1303 masehi. Berita mengenai galunggung, dimulai dari berita kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh mulai ada berita tahun, ketika diperintah oleh:

  1. Resi guru: 448-490 S = 526-567 M
  2. Raja Putra Suraliman Sakti: 448-519 S = 568-597 M
  3. Kandihawan Rajaresi Dewarja: 519-534 S = 597-612 M
  4. Wrtikandayun Prabu Galuh atau disebut Rahyang Ri Menir: 534-624 S = 612-702 M.

 

Dari Wrtikandayun Prabu Galuh atau Rahyang Ri Menir inilah diberitakan Galunggung dan Denuh. Rahyang Ri Menir ini diberitakan mempunyai tiga orang putera. Yang sulung karena cacat tanggal giginya, ia disindir dengan sebutan Batara Sempak Waja, ditempatkan menjadi Batara Dangiang Guru di Galunggung, yang kedua, juga cacat Hernia, ditempatkan di Denuh dengan sebutan Rahyang Kedul. Yang ketiga ialah Rahyang Mandi Minyak yang mewarisi tahta kerajaan Galuh dan menjadi raja Galuh. Rahyang Sempak Waja yang kemudian bertugas menjadi Dangiang Guru di Galunggung mempunyai kekuasaan dalam mengabiseka raja. Raja baru sah jika telah disetujui Galunggung. Disamping itu dia diberi daerah-daerah penunjang (apanage) sebanyak 12 daerah. Galunggung pada waktu itu disebut: “Taraju Jawadwipa, Taraju Mainya Galunggung, Jawa Ma Ti Wetan.” (pengukuh pulau jawa itu ialah galunggung, jawa ada disebelah timurnya).

 

Urutan-urutan batara yang memerintah kebataraan di galunggung dimulai dari batara Wastuhayu dan kemudian batara Hyang yang mengalami perubahan bentuk kebataraan menjadi kerajaan tahun 1111 bersama raja sunda di pakuan yang dijabat pada waktu itu oleh sang Lumahing Kreta (987-1011 S = 1065-1155 M)

Urutan-urutan raja memerintah di Galunggung ialah:

Batara Hyang (1111-1163), rakean darmasiksa (1163-1175 M) selama 12 tahun raja di galunggung kemudian  diangkat Prabu Susuhunan Pakuan (1175-1297) dengan gelar Rakean Darmasiksa Sang Paramarta Mahapurusa Prabu Sanghyang Wisnu.

Kemudian Ratu Saung Galah Prabu Raga Suci Sang Lumahing Taman selama 6 tahun Keprabuan Pakuan dijabat rangkap dan pusat dipindahkan di Galunggung. Raja daerah galunggung setelah Sang Lumahing Taman ialah: Ratu Galung Sakti, Sembah Golok Ratu Panyosogan Sang Lumahing Gunung Raja dan Sri Gading.

Galunggung Barak diperkirakan pada tahun 1520-an keatas yang diberitakan bahwa Saung Agung pernah diserang Prabu Surawisesa, ketika raja-raja daerah mulai kena pengaruh Islam dan mulai ada yang melepaskan diri dengan Pakuan Pajajaran.

Dengan keterangan tersebut diatas maka pada tanggal 21 Agustus 1111 tercatat adanya pusat organisasi ketertiban masyarakat dalam bentuk pemerintahan Galunggung. Dari sinilah asalnya pemerintahan Tasikmalaya setelah mengalami beberapa periode perkembangan pemerintahan, mulai dari periode pemerintahan di Galunggung, di Sukakerta, di Sukapura, perpindahan pusat pemerintahan Sukapura dari Sukaraja ke Manonjaya, dari Manonjaya ke kota Tasikmalaya pada sekitar tahun 1901 ketika dipimpin oleh Bupati Rta. Prawira Adiningrat dengan nama kabupaten Sukapura, kemudian berganti nama menjadi Tasikmalaya pada tahun 2010, setelah kurang lebih 110 tahun, ibu kota pemerintahan telah berpindah dari kota Tasikmalaya ke Singaparna, di bawah pemerintahan bupati bapak DRS. H.T. Farhanul Hakim, M.Pd dan wakil bupati bapak H.E. Hidayat , SH, MH.

Melihat perjalanan waktu sejak terbentuknya pemerintahan di Galungggung sampai sekarang, maka usia Tasikmalaya telah mencapai 902 tahun, merupakan satu kurun waktu yang sangat panjang dan lama sekali.

Demikianlah riwayat singkat pemerintahan di Galunggung menurut Prasasti Geger Hanjuangg, untuk dapat dipahami dan menjadi bahan renungan kita bersama.

Sukapura ngadaun ngora

Makarya mawa raharja