Comring: Home Industry Desa Linggapura

comring-kawali-ciamis-harapanrakyat

Yono Suryono, sedikit contoh dari Linggapura yang mampu merintis usahanya dengan baik. Usahanya dalam produksi penganan ringan daerah, comring (combro garing), dapat dikatakan sukses, comring yang diproduksinya sudah diekspor ke Korea dan menyusul ke Singapura. Yono juga termasuk sosok yang kreatif dan inovatif. Itulah mungkin yang membuat usahanya dapat berkembang pesat dalam waktu yang cukup singkat.

Yono suryono lahir di Linggapura pada 10 Mei 1955 silam. Yono adalah anak ke enam dari pasangan  Almarhum Ibu Danti dan Pak Udin. Merujuk pada masa kecilnya, Yono merupakan anak  laki-laki yang “bandel” dan memiliki ketertarikan di bidang otomotif. “Saya  itu waktu kecil bandel, suka sama hal yang berbau otomotif. Dari tahun '70 suka diam-diam membawa sedan Chevrolette orang tua saya. Mulai tahun '73, saya mulai bekerja menjadi supir,” kenang Yono.

Perkenalannya dengan industri comring dimulai pada tiga tahun silam, di pertengahan tahun 2007.  Sebelumnya ia tidak pernah berencana untuk menjalankan usaha produksi comring. Namun, kecelakaan yang menimpanya pada 2006 silam seolah menjadi titik balik hidup dan profesinya. Sejak mengalami luka dalam akibat tabrakan kendaraan di Cipatat, Yono beralih dari profesinya sebagai supir angkutan menjadi pengusaha comring. “saya sempat gak bisa jalan selama 4 bulan setelah kecelakaan itu, kaki saya bengkak, sampai akhirnya dibawa berobat ke Garut. Saya berhenti menyupir dan mulai beralih ke usaha comring, ”tutur Yono.

Yono mulai merintis usahanya dalam produksi comring pada 10 Mei 2007, tepat menginjak usia 52 tahun. Berbekal spontanitas dan sedikit kreativitas, ia mulai membuat penganan comring dengan cara lain, molen. “Ya awalnya saya tidak kepikiran untuk membuat usaha ini. Cuma liat kan di sini banyak singkong, banyak yang jualan comring. Ah, saya mau coba buat yang lain, pengencomringnya dimolen, kan biasanya cuma di cetak biasa, trus dikasih tempe atau oncom,” tuturnya. Awalnya Yono membuat penganan dengan bahan dasar serupa, cimpring, lalu ia membuat comring. Yono mencoba membuat comring selama sekitar 3 bulan, sampai akhirnya ia berhasil membuat comring yang dimolen, dengan berbagai varian rasa. “Saya tuh pertamanya bikin cimpring, terus buat comring. Seminggu sampai bisa dimolen. Awalnya kan pada heran, disangka cistik. Terus saya coba kasih ke warga-warga suruh di coba, kalo ada kurang-kurang bumbu ya dikasih tau, terus enak apa enggak,” ujarnya.

Selama melakukan percobaan, ia dibantu oleh kakaknya juga anak pertamanya, Anton Adianto. Anton mencarikan resep dan perasa dari berbagai situs di internet, sedangkan salah satu kakaknya, menjadi penasihat dalam olahan bumbu-bumbu comring yang dibuatnya. “Anak saya Anton, nyari bumbu kayak barbeque, pizza, keju, di internet. Terus kan ada kakak saya yang suka bikin kue, ya ditanya bumbu-bumbu comring kok bisa gurih, kok bisa renyah,” ungkapnya.

Yono memulai usahanya dengan modal 2 Juta rupiah, dengan bantuan dua orang pegawai, ia mulai memproduksi 50 Kilogram Comring. Ia juga mengaku membeli semua bahan produknya, mulai dari bahan bakunya, hingga perasa. Singkong misalnya, ia tidak menanam pohon singkong baik di kebun atau pekarangan rumahnya, tapi membeli. “Dulu sih Modal awalnya cuma 2 juta, buat produksi 50 Kilo Comring, tapi diitung-itung sih emang kurang modal segitu” papar Yono.

Produk comring Yono saat ini sudah memenuhi standar kelayakan mendapat sertifikasi BPOM dalam menunjang pemasarannya. Tinggal menunggu label halal dari MUI sekitar satu bulan ke depan. Yono kini memiliki sebayak 22 pegawai, usahanya juga berkembang dengan bantuan 15 UMKM yang tergabung dalam usahanya. Dibantu pula oleh supplier dari Jakarta, produk comring Yono sampai diekspor ke Korea dan  menyusul ke Singapura.

Yono mengaku tidak tahu-menahu mengenai manajemen pengelolaan dan pemasaran produk comringnya. Ia menyerahkan urusan manajemen produk dan pemasaran kepada anal sulungnya, Anton. “Saya mah kurang tahu kalo masalah pemasaran. Yang ngurus Anton. Saya paling mencatat produksinya berapa, bahannya apa aja, nanti yang ngerapihin anton, ada kok di bukunya, jadi kaloada yang dateng, saya mah ngasih buku yang dari Anton aja, mereka bilang bagus, ya udah,” jelasnya.

Yono menceritakan rencananya saat ini, membuat olahan singkong serupa, keripik singkong. Ia juga berencana membuat keripik singkong yang lain dari biasanya, dengan bahan dan resep dari Cikijing-Garut. “Saya lagi nyoba buat keripik singkong untuk dipasarkan ke Jakarta. Resepnya minta bantuan dari cikijing. Jadi nanti singkongnya tidak dikupas penuh sebelum digoreng. Nanti hasilnya ada yang lingkaran coklat dipinggiran keripiknya, alami itu mah,” tuturnya semangat.