Sawah Ku Sawah Tetangga

Oh bukan neng, saya pekerja disini. Istilahnya ikut memanen saja, ini sawah yang punya warung didepan neng” ujar Ibu Petani.

Walau nasi sudah menjadi bubur setidaknya masih bisa ditambah bumbu dan dikonsumsi. Inilah yang dialami salah satu petani di Desa Tunggilis. Mayoritas warga di desa Tunggilis bermata pencaharian sebagai petani. Namun kebanyakan dari mereka adalah sebagai pekerja pemilik sawah. Biasa disebut Penderep. Mereka mengelola sawah milik orang lain dengan menanam padi dan membantu panen setiap 2 kali dalam setahun. Hasil panen yang bagus biasanya mereka jual langsung ke tengkulak dan hasil penjualannya disetorkan kepemilik sawah. Penderep hanya mendapat upah seikhlasnya dari Si Pemilik sawah. Akan tetapi untuk hasil panen yang kurang bagus atau terserang hama seperti tikus dan burung mereka manfaatkan untuk dikonsumsi pribadi atau dijual ke tetangga.


Padi yang terserang hama seperti tikus biasanya rusak dibagian bawah, sedangkan untuk padi yang terserang hama seperti burung biasanya dibagian pucuk sudah habis dilahap burung. Alhasil padi yang terserang hama dibagian pucuk akan berbeda warna dengan padi dibagian tengah atau bawah. Padi-padi yang ludes terlahap burung di bagian pucuk akan berwarna hijau yang menandakan bahwa padi tersebut baru tumbuh atau belum matang.

Meski seperti itu, Penderep sawah ini tidak kehabisan akal. Mereka masih bisa memanfaatkan gabah yang kurang bagus dari sisa panen tersebut. Awalnya padi-padi dipukul-pukulkan pada bambu bergerigi agar bulir padi rontok. Bulir padi kemudian dijemur agar warnanya menjadi sama.

“Biasanya ini dijemur kalau panasnya bagus ya 2 hari, nanti yang hijau warnanya jadi kuning neng”, ujar Bapak Petani.


Penulis: Gitri Maudy