Sawah Apung untuk Masa Depan Tunggilis

Seperti biasa setiap sore kupacu sepeda milik pak Ilan untuk berkeliling desa memanjakan diri sejenak dengan indahnya pemandangan sawah berwarna kehijauan dan cahaya matahari yang mulai berubah warna menjadi keemasan. Layaknya hari - hari biasanya, ku pacu sepedaku tanpa tahu kemana arah tujuanku, menelusuri jalan - jalan setapak yang membawaku ke tempat- tempat yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya.

"Neng, KKN neng?" sapa ramah seorang bapak separuh baya yang sedang duduk santai diatas bangku kayu rakitannya, "Eh, iya pak.. hehehe" jawabku malu sambil segera memberhentikan sepedaku dan memanggil temanku yang sudah lebih dulu berada di depan, "Penn! mampir sini dulu yukk, gue mau foto. Hehehe". Kami pun melipir sebentar untuk berbincang manja dengan bapak tersebut. "Dari mana, neng? Jogja?" beginilah selalu sapaan dari warga setempat. Mereka selalu mengira kami tim KKN dari Jogja. Jawab temanku, "Bukan, pak. Kita dari Bandung nihh..." "Ohhh Bandung. Sudah berapa lama disini? Kok baru kelihatan... Mari duduk saja, neng." sambil menepuk bangku kayunya. "Sudah tiga minggu, pak. hehehe Bapak lagi mancing?" jawabku sambil melontarkan pertanyaan berusaha memecairkan suasana. Bapak itu pun tertawa kecil, "HAHAHA. yang bener aja ah neng... masa mancing di sawah.  Mau kapan dapat ikannya?" Kami pun terkejut sekaligus kebingungan mendengarnya, ternyata 'kolam' yang berada di depan kami bukanlah kolam ataupun danau melainkan sawah.

"Hah? SAWAH?!" "Iya neng.. ini sawah bapak sedang kebanjiran makanya disulap jadi seperti danau yah? padahal aslinya mah sawah loh neng jangan salah." bapak itu menjawab sambil tertawa kecil dan menghisap rokoknya.

Dan setelah kami perhatikan lebih simak ternyata benar genangan air ini dulunya adalah hamparan sawah. Namun, dikarenakan banjir bandang yang melanda desa Tunggilis, sawah ini pun berubah menjadi seperti danau. Kalau sudah begini, kasihan nasib - nasib petani. Mereka jadi tidak bisa menikmati hasil panen. Banjir yang melanda desa Tunggilis pun bukan main dalamnya. Aku sering mendengar celotehan - celotehan anak kecil di sekolah dasar tempatku mengajar kalau banjir bandang yang sering melanda Tunggilis ini  dalamnya bisa mencapai 1,6 meter. Wow. Dan memang banjir menjadi salah satu permasalah utama di desa ini.

Selidik punya selidik ternyata banjir ini disebabkan oleh luapan air saat musim hujan. "Letak mata air di desa ini lebih tinggi, neng. Di dusun Suka Maju, diatas sana noh." ucap bapak tersebut. Banjir di Desa Tunggilis disebabkan oleh letak sumber air yang lebih tinggi (dusun Sukamaju)  dibanding tempat warga biasanya menanam hasil pertanian (dusun Cintamaju dan Kedung Palumpung). [peta tata guna lahan desa  Tunggilis]

pemandangan hamparan sawah yang terendam banjir dari RM Cobek Beti "Tunggilis" photo by Tasya Yolanda

Setelah kami kembali ke rumah singgah kami, kami pun mencoba mencari solusi untuk permasalahan ini. Dan ternyata, kami rasa kami menemukan solusi yang tepat dan dapat menjadi masa depan bagi para petani di desa Tunggilis.

"SAWAH APUNG",

Sawah apung adalah teknik penanaman tanaman dimana tanah tempat tanaman ditanam didesain untuk bisa mengapung, sehingga saat debit dan ketinggian air di lahan mulai naik, tanah juga akan mengikuti ketinggian air dan  menyebabkan tanaman tidak tergenang. Biasanya, untuk teknik penanaman seperti gambar terlampir dibawah dapat meamakan yang biaya dan modal yang besar untuk pembuatannya. Namun, ternyata tidak menutup kemungkinan bagi para petani untuk membuat sawah apung dengan biaya yang minim dengan menggunakan rakit rotan, sabut kelapa, dan tentunya tanah. Dan juga, selain menanam padi, air yang menggenang dibawah dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar juga oleh warga setempat, bukan? Sehingga 2 in 1,  banjir yang merupakan musuh dari Desa Tunggilis bisa menjadi berkat jika dihadapi dengan cara yang kreatif. Semoga masa depan dan nasib para warga di desa Tunggilis dapat menjadi lebih baik lagi setelah nanti dapat diterapkannya tekhnik penanaman padi dengan sawah mengapung ini yah. Sayangnya, kami belum sempat mensosialisasikan tentang hal ini ke warga desa setempat karena keterbatasan waktu kami.

http://nusantaranews.co/sawah-terapung-solusi-keterbatasan-lahan/
Ilustrasi tekhnik penanaman sawah mengapung, anti banjir. sumber nusantaranews

ditulis oleh  Tasya Yolanda